Semua menyimpan Kerinduan Kepadanya.

    Author: Unknown Genre: »
    Rating



    Mellihat langit yang menampakkan ketenangannya, setenang malam yang sunyi tanpa ada gemerisik suara. Sesunyi hati yang berfikir akan perjalanan di dunia.
    Awan_pun berjalan dalam ketundukan kepada_Nya, serta angin yang sepoi mengikuti ritme hembusan nafas yang ada.
    Sejenak ketenangan muncul karena berhenti akan memikirkan hiruk pikuk dunia dan segala masalah yang menimpa.
    Berfikir dalam kesendirian yang menarikku dalam alam diri ini dikembalikan.

    Semua yang ada di alam mengikuti aturan yang telah ditentukan, yang menggambarkan sebuah ketundukan yang tiada lagi ada dusta akan titah Tuhan.
    Semuanya tiada henti untuk mengucapkan tasbih dalam rangka pengagungan terhadap yang menciptakan.
    Yah, semua berdzikir dalam lisan yang telah dititipkan.
    Sehingga semua menunjukkan akan ke_Esa_an Tuhan sang pencipta alam.

    Ku meneruskan langkah kaki yang sempat tertahan karena melihat panorama keindahan ciptaan Tuhan, mata melihat dalam ketakjuban sembari lisan mengucapkan pengagungan dalam dzikir "Subhanalloh "Maha suci Allah Akan segala yang diciptakan.
    Mata yang mengikuti langkah kaki yang berjalan, dengan mengambil pelajaran serta hikmah yang tersimpan dalam sebuah perjalanan.
    Melihat gunung - gunung dengan batu cadas yang kuat menahan segala benturan yang ada.
    Mengingatkan diri ini agar selalu tegar dalam menghadapi segala apapun yang menimpa dan tiada lagi putus asa, sembari lisan mengucapkan "Laa haula walaa quwwata illaa billah "Tiada daya untuk menghindar dari kemaksiatan dan tiada kekuatan untuk melaksanakan pengabdian ibadah kepada_Nya kecuali murni pertolongan dari Allah Swt.
    Dan diri ini melanjutkan mengingat akan segala yang menimpa, liasn_pun mengucapkan "Innaa lillahi wa inna ilaihi Rojiun " Semua datang dari_Nya dan akan kembali kehadapan_Nya.
    Ketenangan diatas ketenangan tatkala kita memahami semuanya datang dari_Nya dan tiada kita akan dibiarkan begitu saja dari pengawasan_Nya.

    Hatiku saat ini beralih pemikiran dari yang dilihat dalam kaca mata kebesaran dan keagungan Tuhan.
    Mengingat kembali akan sebuah perjalanan sang utusan, sang panutan dan sebaik - baik makhluq yang ada di bumi ini. rosululloh Muhammad bin Abdillah Shollallohu alaihi wasallam.
    Sebuah perjalanan yang penuh ketundukan dan juga penuh hikmah dalam segala kehidupan, menjawab segala problematika yang ada dalam kehidupan ini.
    Melewati bebatuan cadas nan keras dengan menopang sebuah perjuangan yang diemban. Semuanya dengan kesabaran dan keteguhan hati yang luar biasa.

    Melewati gupitan - gupitan gunung yang ada, melewati padang sahara dan juga perkebunan kurma.
    Duhai alangkah indahnya semuanya, tatkala dilewati sebaik - baik makhluq di muka bumi ini.
    Tak elak mereka semua rindu akan dilewati seorang yang paling mulai dimuka bumi ini, kerinduan_pun teraplikasi dalam dunia nyata dengan sebuah salam penghormatan.
    Batu cadas dan juga pepohonan tiada mau kalah dalam mencintai dan menyatakan salam kehormatan untuk pemimpin para utusan.

    Bagaimana dengan umatnya yang selalu mendapatkan perhatian, baik ketika beliau masih hidup dan juga tatkala kembali keharibaan.
    Akan kah tiada lagi kerinduan itu tertanam dalam hati setiap insan untuk sekedar menyebut namanya dalam setiap lisan.
    Alangkah busuknya diri ini yang tiada berusaha untuk mencintai sepenuh hati, tiada lagi menghiasi lisan dengan basahnya membaca sholawat untuk sang kekasih.
    Mengapa kita semua tiada malu, bagaimana pelepah kurma yang menangis tatkala sudah tidak menjadi sandaran beliau yang mulia.
    Karena sebuah kerinduan yang membara dalam hati pelepah kurma yang tiada punya akal seperti manusia.
    Bagaimana manusia selalu lupa,,, padahal perhatiannya tiada lekang oleh masa.
    Meski umatnya pendosa atau sekalipun durhaka tiada pernah menyebutnya.

    "Hidupku adalah kebaikan untukmu sekalian, ku bisa membimbingmu dan kamu bisa bertanya kepadaku
    Dan wafatku juga merupakan kebaikan untukmu sekalian, karena amalanmu selalu di tayangkan keoadaku. Tatkala ku mendapati dirimu melakukan kebaikan maka aku memuji kepada Tuhanku atas pengabdian yang kamu lakukan.
    Dan tatkala ku mendapati dirimu melakukan kesalahan maka Aku akan memintakan ampunan atas kamu sekalian".

    Kasih sayang Rosulullah yang tiada bertepi, tak elak makhluk yang ada di sekitarnya juga selalu merindukannya.
    Bahkan binatang_pun meminta suaka atas kekejaman pemiliknya.

    Lantas apa yang kita suguhkan kepada Rosulullah yang selalu membela kita, yang selalu mendoakan kita.
    Dan tiada rela tatkala kita ditimpa malapetaka dan juga kesengsaraan di dunia dan di alam baka.
    Apakah kita tiada malu dengan bebatuan yang ada dan juga binatang yang menyatakan rindu dengannya.

    Duhai celaka diri yang lupa dan tiada lagi mencintainya.
    Duhai malapetaka tatkala tiada lagi menyebut nama_nya.
    Dan malapetaka akan menimpa tatkala tiada lagi mengikuti jalan lurusnya.

    Allohumma sholli alaa sayyidinaa Muhammadin waftah minal khoiri kulla mughlaq.
    Assholatu wassalamu alaika Yaa habiballoh. Qod addaita al amanah. wa nasohta al ummah wa ballaghta arrisalaah.
    Jazakalloh anna yaa Sayyidii Yaa Rosulalloh.

    Jumát Mubarak, 23 Muharram 1434 H. Peraduan para gembel, Ribath Misfalah, Makkah Al-Mukarromah.

    2 Responses so far.

    1. Thayyib...ya..akhiy..ya abid Alloh...

    2. Anonim says:

      Hidayet Dogan - Yesil Cubbesini Giymis

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM


    Streaming Islam Android App on Google Playstore

    follow me

    VISITOR

    free counters