Maulid Nabi Muhammad 2

    Author: Unknown Genre: »
    Rating




    Liwaul Hamd (Panji Puji-pujian)

                Dalam hadits-hadits nabawi diceritakan bahwa Baginda kita Nabi Muhammad saw. mempunyai panji yang menjulang tinggi di atas seluruh panji-panji kemuliaan yang ada, nan amat luas sekali di mana para nabi dan para rasul, berikut para pengikut mereka (semoga rahmat Allah ta’ala terlimpah kepada beliau dan kepada mereka semua) sama berlindung dan masuk di bawah panji itu. Panji itu dinamakan Liwaul Hamd. Ia berada di tangan pemadu/penghimpun segala macam kepenghuluan dan kecintaan.
                Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri ra. Rasulullah saw. bersabda,
    أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ ، وَبِيَدِيْ لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ ، وَمَا مِنْ نَبِيٍّ: آدَم فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِيْ ، وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الْأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ
    “Aku penghulu anak Adam pada hari kiamat, wa la fakhra (dan aku tidak berbangga karena itu; atau, dan tidak ada kebanggaan lebih daripada itu). Di tangankulah liwaul hamd, dan aku tidak berbangga karena itu. Tidak ada satu nabi: Adam dan nabi-nabi lainnya kecuali di bawah panjiku. Akulah orang pertama yang bumi terbelah karenanya, dan aku tidak berbangga karena itu.” (Al-hadits).
                Tirmidzi, Darimi, dan lainnya juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Katanya, “Sekelompok sahabat duduk menunggu Rasulullah saw..” Katanya, “Lalu keluarlah beliau, sehingga kala dekat dari mereka, beliau mendengar mereka bertukar pikiran (mudzakarah), beliau mendengar pembicaraan mereka. Kata sebagian mereka, “Mengagumkan! Sesungguhnya Allah menjadikan khalil (kekasih) dari makhluk-Nya. Dia menjadikan Ibrahim sebagai khalil.” Yang lain berkata, “Apakah ada yang lebih mengagumkan daripada diajaknya Musa berdialog.” Kata lainnya, “Isa adalah kalimat Allah dan ruh-Nya.” Ada yang berkata juga, “Adam dipilih Allah ta’ala.” Rasulullah saw. lalu keluar kepada mereka. Beliau menyampaikan salam seraya bersabda, “Aku mendengar pembicaraan dan kekaguman kalian. Sesungguhnya Ibrahim khalil (kekasih) Allah, dan memang begitulah sebenarnya. Musa adalah orang yang diajak bicara oleh Allah, dan memang benar. Isa adalah ruh Allah dan kalimat-Nya dan memang benar. Dan Adam dipilih oleh Allah, juga benar demikian. Perhatikanlah. Dan bahwa aku adalah habibullah (kecintaan Allah), dan aku tidak berbangga karena itu.. Aku adalah pembawa panji puji-pujian pada hari kiamat, dan aku tidak berbangga karena itu. Aku adalah orang pertama pemberi syafaat sekaligus orang pertama yang diberikan syafaat pada hari kiamat, dan aku tidak berbangga karena itu. Aku adalah orang pertama yang membuka pita-pita surga, lalu Allah membukakan untukku, Allah lalu memasukkanku padanya, dan besertaku adalah orang-orang fakirnya kaum mukminin, dan aku tidak berbangga karena itu. Dan aku adalah termulianya orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian bagi Allah, dan aku tidak berbangga karena itu.”
                Makna ucapan beliau, ‘wa la fakhra’, dalam hadits tersebut, adalah bahwa beliau mengucapkan itu bukanlah karena berbangga dan angkuh, beliau hanya mengucapkannya dalam rangka menceritakan nikmat Allah ta’ala dan dalam rangka bersyukur kepadanya serta dalam rangka melaksanakan perintah Allah ta’ala, ketika Allah berfirman kepadanya,
    وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
    Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (Q.S. adh-Dhuha: 11)
                Abu Nuaim dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman. Para sahabat ra. berkata, “Ya Rasulullah, Ibrahim khalil (kekasih) Allah. Isa kalimat Allah dan ruh-Nya. Musa kalim (orang yang diajak bicara oleh) Allah. Lalu apa yang engkau diberikan?” Sabda beliau, “Anak keturunan Adam seluruhnya berada di bawah panjiku pada hari kiamat. Aku orang pertama yang dibukakan pintu-pintu surga baginya.” Tirmidzi, Darimi, Abu Ya’la, dan lainnya juga meriwayatkan dari Anas ra. bahwa Rasullah saw. bersabda, “Aku orang yang pertama kali keluar tatkala mereka semua dibangkitkan. Aku pemimpin mereka kala mereka datang menghadap. Aku adalah penceramah mereka saat mereka terdiam. Aku adalah penolong mereka saat mereka dirintangi. Aku adalah pemberi berita gembira pada mereka kala mereka putus asa. Segala kemuliaan dan kunci-kunci saat itu berada di tanganku. Aku adalah anak Adam termulia menurut Tuhanku, dan aku tidak berbangga karena itu. 1000 pelayan mengelilingiku, seakan-akan mereka adalah mutiara yang tersimpan baik (putih berseri).” Ini redaksi Darimi.
                Hafidz az-Zarqani berkata, “Dipadukannya panji pada puji-pujian yang merupakan sanjungan semestinya pada Allah, karena beliau adalah penegak panji itu di mauqif. Dan ini adalah maqam mahmud (kedudukan terpuji) yang spesial bagi beliau.” Katanya, “Tradisi menyatakan bahwa panji selalu bersama dengan pembesar kaum agar dikenali kedudukannya, karena topiknya adalah eksistensi kepopuleran kepala.”
           &nbsp:    Guru besar kita, Syeikh Abdullah Sirajuddin dalam kitabnya, al-Iman bi Awalim al-Akhirah, mengatakan, “Syeikh Akbar Muhyiddin –semoga Allah memadukan kita dengannya dan dengan keluarga Allah seluruhnya- telah berbicara seputar liwaul hamd (panji puji-pujian). Dia menjelaskan dinamakannya dengan liwaul hamd, karena liwa’ (panji) itu menghimpun segala puji-pujian yang disampaikan kepada Rabbul alamin. Ia adalah panji yang menghimpun seluruh puji-pujian ketuhanan, maka tidak akan kelurga suatu puji jauh darinya. Setiap pemuji mengambil darinya untuk memuji Tuhan semesta alam Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.
                Sesungguhnya pujian bagi Allah tidak akan ada kecuali dengan asma-asma ketuhanan, karena dengan asma-asma ketuhanan itulah, Allah subhanahu wa ta’ala dipuja dan dipuji. Dan sesungguhnya seluruh asma-asma ketuhanan yang digunakan untuk memuja dam memuji oleh para pemuji kepada Tuhan mereka, seluruhnya telah dihimpun oleh Allah ta’ala dalam panji Rasulullah saw. Maka, kepada naungan panji beliaulah mereka semua sama berkumpul. Dari panji itu mereka mengambil formula-formula pujian mereka. Karena itu, naungan panji beliau meliputi seluruh orang-orang yang memuji, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw., “Tidak ada satu nabi: Adam dan nabi-nabi lainnya kecuali di bawah panjiku.” Maka para nabi dan para pengikut mereka seluruhnya berada di bawah panji beliau yang di dalam berhimpun segala macam puji-pujian. Dan darinya bertemulah setiap pemuji. Sesungguhnya orang yang paling banyak memuji di antara pemuji kepada Tuhan semesta alam adalah Baginda kita, Ahmad saw., yang Allah telah membuka dan akan membuka puji-pujian-Nya kepadanya, yang tidak dibukakan kepada satu orang pun selainnya, sebagaimana diceritakan dalam hadits-hadits syafaat terdahulu, saat ketika beliau bersabda, “… Allah ta’ala lalu membuka kepadaku (yakni pada hari kiamat kala Dia menempatkannya pada maqam mahmud) dari puji-pujian terhadap-Nya, yang tidak dibukakan pada seorang pun sebelumku, aku lalu memuji-Nya dengan puji-pujian yang aku tidak tidak mengetahuinya sekarang ini. Allah ta’ala mengilhamkan puji-pujian itu kepadaku.”
                Mudah-mudahan Allah ta’ala menghimpun kita di kalangan teman-teman Nabi saw., menghimpun kita di bawah panji puji-pujian dan bendera keagungan beliau, sekaligus merebakkan nafahat-nafahat (embusan-embusan rahmat) dan meluapkan keberkahan-keberkahan beliau kepada kita.

    Pengampunan dari sisi Rasulullah Amat Diharapkan

                Beliau saw. bersabda, “Barangsiapa di antara kamu berjumpa Ka’ab bin Zuhair, hendaklah membunuhnya.” Saudara Ka’ab lalu menulis surat kepadanya dengan bait-bait ini,
    مِنْ مُبَلِّغٍ كَعْبًا فَهَلْ لَكَ فِى الَّتِي = تَلُوْمُ عَلَيْهَا بَاطِلاً وَهِيَ أَحْزَمُ
    إِلَى اللهِ لاَ الْعُزَّى وَلاَ اللَّاتَ وَحْدَهُ = فَتَنْجُو إِذَا كَانَ النَّجَاءُ وَتَسْلَمُ
    لَدَى يَوْمٍ لاَ يَنْجُو ، وَلَيْسَ بِمُفْلِتٍ = مِنَ النَّاسِ إِلاَّ طَاهِرُ الْقَلْبِ مُسْلِمُ
    فَدِيْنُ زُهَيْرٍ وَهُوَ لاَ شَيْءَ دِيْنُهُ = وَدِيْنُ أَبِى سُلْمَى عَلَيَّ مُحْرَمُ
    Dari penyampai kepada Ka’ab. Apakah gunanya kamu mencelanya sebagai kebatilan, padahal ia itu lebih mantap,
    Kepada Allah yang Esa, bukan Uzza, bukan Lata. Maka kamu akan selamat jika keselamatan itu ada, dan aman.
    Pada hari di mana tidak ada manusia yang selamat dan lepas kecuali orang muslim lagi bersih jiwanya.
    Agama Zuhair, tidak bergunalah agamanya, dan agama Abu Sulma, haramlah bagiku.

    Tatkala surat itu sampai pada Ka’ab, terasa sempitlah bumi baginya. Dia mencemaskan dirinya. Sedang orang-orang yang hadir dari musuhnya menyebarkan berita yang membuatnya takut. Kata musuhnya, “Dia akan dibunuh.” Tatkala dia tidak mendapati jalan keluar sama sekali, dia menggubah kasidahnya yang dengan itu dia memuji Rasulullah saw., menuturkan ketakutannya dan berita yang membuatnya takut yang disebarkan oleh pemfitnah dari kalangan musuh dirinya.
    Kemudian dia keluar hingga tiba di kota Madinah, lalu menjumpai seseorang yang dikenal dengan nama Juhainah di mana antara dia dan dirinya ada saling kenal. Dia mengajaknya datang menghadap Rasulullah saw., lalu berkata, “Ini Rasulullah. Temuilah dia dan mintalah aman padanya.” Ka’ab lalu berdiri hingga duduk dekat Rasulullah saw., dia menaruh tangannya pada tangan beliau, sedang Rasulullah saw. tidak mengenalinya. Katanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ka’ab bin Zuhair telah datang untuk meminta jaminan kepada engkau seraya bertaubat dan masuk Islam. Apakah engkau menerimanya jika aku datang membawanya kepada engkau?”
    Rasulullah saw. bersabda, “Iya.” Katanya, “Akulah Ka’ab bin Zuhair, wahai Rasulullah.” Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah menceritakan kepadaku bahwa seseorang dari kalangan Anshar bergerak cepat (melompat) kepada Ka’ab seraya berkata, “Ya Rasulullah, biarkan aku memenggal leher musuh Allah ini.” Rasulullah saw. bersabda, “Biarkanlah dia. Sesungguhnya dia telah datang dalam keadaan bertaubat dan sadar.” Katanya, “Ka’ab lalu murka terhadap suku dari kalangan Anshar ini karena sikap yang dilakukan warganya. Hal ini karena tidak seorang pun dari kalangan muhajirin kecuali berkata baik kepadanya. Kemudian Ka’ab menggubah kasidah Lamiyah-nya, yang bait pertamanya adalah,
    بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي الْيَوْمَ مَتْبُوْلُ = مُتَيَّمٌ إِثْرَهَا لَمْ يُفْدَ مَكْبُوْلُ
    Suad telah tertalak bain. Maka hari ini hatiku binasa (sakit karena cinta). Pikiranku kacau. Terbelenggu. Yang tidak bisa ditebus.

                Di antara bait-bait kasidahnya adalah,
    أُنْبِئْتُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ أَوْعَدَنِي = وَالْعَفْوُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ مَأْمُوْلُ
    مَهْلاً هَدَاكَ الَّذِيْ أَعْطَاكَ نَافِلَةَ الْـ = ـقُرْآنِ فِيْهِ مَوَاعِيْظُ وَتَفْصِيْلُ
    لاَ تَأْخُذَنِّي بِأَقْوَالِ الْوُشَاةِ وَلَمْ = أُذْنِبْ وَلَوْ كَثُرَتْ فِيَّ الْأَقَاوِيْلُ
    إِنَّ الرَّسُوْلَ لَنُوْرٌ يُسْتَضَاءُ بِهِ = مُهَنَّدٌ مِنْ سُيُوْفِ اللهِ مَسْلُوْلُ
    فِى عِصْبَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَالَ قَائِلُهُمْ = بِبَطْنِ مَكَّةَ لَمَّا أَسْلَمُوْا: زُوْلُوْا
    يَمْشُوْنَ مَشْيَ الْجِمَالِ الزُّهَرِ يَعْصِمُهُمْ = ضَرْبٌ إِذَا عَرَدَ السُّوْدُ التَّنَابِيْلُ
    Aku diberi kabar bahwa Rasulullah mengancamku. Sementara pengampunan di sisi Rasulullah amat diharapkan.
    Sebentar. Tidak terburu-buru. Engkau telah diberi petunjuk oleh Dzat Yang memberikan kepadamu suatu pemberian, berupa al-Qur’an, yang di dalamnya adalah petuah-petuah dan hukum-hukum detail.
    Jangan engkau siksa aku disebabkan ucapan-ucapan para tukang fitnah, sedang aku tidak melakukan dosa, walaupun fitnah-fitnah terhadapku itu banyak sekali.
    Sesungguhnya Baginda Rasul adalah cahaya yang menerangi. Yang terhunus dari pedang-pedang Allah.
    Pada sekelompok orang-orang Quraisy. Seseorang berkata di lembah Makkah ketika mereka sama masuk Islam, “Tuntutlah!.”
    Mereka berjalan bergaya (berlagak) laksana lagak gaya jalan unta. Mereka dijaga pemukul (pengawalan) jikalau anak panah dilempar dari jarak jauh.

                Riwayat Abu Bakar bin al-Anbari lain menyatakan bahwa tatkala Ka’ab sampai pada baitnya, “Sesungguhnya Baginda Rasul adalah cahaya yang menerangi…,” beliau melemparkan burda (selimut) yang beliau pakai kepadanya. Sesungguhnya Muawiyah berupaya menukar selimut itu dengan harga 10.000, maka dia berkata, “Aku tidak akan memberikan burdah (selimut) Rasulullah saw. pada seorang pun.” Ketika Ka’ab meninggal, Muawiyah mengirim kepada ahli warisnya 20.000, lalu dia mengambil burdah itu dari mereka. Katanya, “Burdah itulah yang selalu berada di sisi para sultan hingga hari ini.”
                Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: ketika Ka’ab berkata menggubah, “Jikalau anak panah dilempar dari jarak jauh.” Yang dimaksudkannya adalah kalangan Anshar kala warganya melakukan itu. Secara khusus, dia menggubah syair madah terhadap kaum muhajirin yang membuat kaum Anshar murka kepadanya. Setelah masuk Islam, Ka’ab menggubah kasidah yang menyanjung kaum Anshar yang dia katakan di dalamnya,
    مَنْ سَرَّهُ كَرَمُ الْحيَاةِ فَلاَ يَزَلْ = فِى مِقْنَبٍ مِنْ صَالِحِ الْأَنْصَارِ
    وَرَثُوا الْمَكَارِمَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ = إِنَّ الْخِيَارَ هُمُ بَنُو الْأَخْيَارِ
    الْمُكْرِهِيْنَ السَّمْهَرِيِّ بِأَذْرُعٍ = كَسَوَالِفَ الْهِنْدِيِّ غَيْرِ قِصَارِ
    وَالنَّاظِرِيْنَ بِأَعْيُنٍ مُحَمَّرَةٍ = كَالْجَمْرِ غَيْرِ كَلِيْلَةِ الْأَبْصَارِ
    وَالْبَائِعِيْنَ نُفُوْسَهُمْ لِنَبِيِّهِمْ = لِلْمَوْتِ يَوْمَ تَعَانُقٍ وَكِرَارِ
    يَتَطَهَّرُوْنَ يَرَوْنَهُ نُسُكًا لَهُمْ = بِدِمَاءِ مَنْ عَلِقُوْا مِنَ الْكُفَّارِ
    قَوْمٌ إِذَا خَوَتِ النُّجُوْمُ فَإِنَّهُمْ = لِلطَّارِقِيْنَ النَّازِلِيْنَ مَقَارِي
    Barangsiapa menyukai kedermawanan hidup, maka dia meniti jejak kaum Anshar yang shaleh.
    Mereka mewarisi kadermawanan dari nenek moyangnya. Sesungguhnya orang-orang pilihan adalah anak-anak dari orang-orang pilihan juga.
    Mereka memaksa (menyuguhkan) paha binatang saat gelap gulita seperti pendahulu-pendahulu India, tanpa mengurangi.
    Mereka melihat dengan pandangan mata merah laksana bara, yang tidak lelah memandang.
    Mereka menjual jiwa-jiwa mereka untuk mati demi Nabi mereka pada hari berkecamuk peperangan.
    Mereka bersuci, sebagai ibadah mereka, dengan darah-darah kaum kuffar yang mereka bunuh.
    Satu kaum jika bintang-bintang lapar, mereka menjamu tamu-tamu yang berjalan.

                Ka’ab bin Zuhair termasuk pujangga ulung, juga ayahnya dan puteranya, Uqbah, dan cucunya, Awwam bin Uqbah.
    (Lihat al-Mawahib al-Laduniyah hal. 172)

    Faedah-faedah Menyampakai Shalawat dan Salam kepada Sebaik-baik Manusia

                Sayyidi al-Arif billah, Syeikh Abdul Wahhab sy-Sya’rani dalam kitabnya, Lawaqihul Anwar al-Qudsiyah, berkata, “Dan aku ingin menyebutkan untukmu, wahai saudaraku, sejumlah faedah-faedah menyampaikan shalawat dan salam kepada Rasulullah saw., dalam rangka membuatmu rindu (bershalawat dan salam pada beliau), agar Allah ta’ala menganugerahkan kepada kecintaan yang murni kepadanya, jadilah kesibukanmu di kebanyakan waktumu adalah menghaturkan shalawat dan salam kepadanya, dan kamu persembahkan pahala setiap amal yang kamu lakukan di dalam lembaran Rasulullah saw., sebagaimana diisyarahkan oleh haditsnya Ubay bin Kaab, “Sesungguhnya aku menjadikan pahala seluruh amalku bagimu.” Nabi saw. lalu bersabda kepadanya, “Jikalau begitu, Allah ta’ala akan mencukupi kesusahan duniamu dan akhiratmu.” Dan di antara itu, dan yang paling penting, adalah shalawat dan salam Allah serta para malaikat dan para rasul-Nya terlimpah atas orang yang bershalawat dan salam kepada beliau.
                Di antaranya juga adalah, dileburnya dosa-dosa, dibersihkannya amal-amal, dan diangkatnya derajat-derajat.
                Di antaranya juga adalah diampuni dosa-dosa, dan istighfarnya shalawat Nabi saw. pada orang yang mengucapkannya.
                Di antaranya pula adalah dicatatnya satu qirath pahala laksana gunung Uhud, dan takaran dengan takaran yang sempurna.
                Juga dicukupinya urusan dunia dan akhirat bagi orang yang menjadikan doa dan ibadah seluruhnya berupa shalawat kepada beliau seperti keterangan sebelumnya.
                Juga dihapuskannya dosa-dosa dan keutamaan shalawat dan salam itu lebih di atas memerdekakan para budak.
                Juga keselamatan dari segala malapetaka dan persaksian Rasul saw. dengan shalawat itu pada hari kiamat, dan keberhakannya menerima syafaat.
                Juga keridlaan dan rahmat Allah, aman dari murka-Nya, serta masuk di bawah naungan arasy-Nya.
                Pula unggulnya mizan di akhirat, bisa mendatangi haud (telaga), dan aman dari dahaga.
                Pula dibebaskan dari neraka, melewati titian shirath laksana kilat yang menyambar, dan melihat posisi duduk yang terdekat dari surga menjelang kematian.
                Di antara faedah bershalawat dan salam juga adalah memperbanyak pasangan (suami; isteri) di surga dan kedudukan yang mulia.
                Di antaranya pula adalah shalawat dan salam adalah zakat dan penyuci serta pengembang harta benda disebabkan keberkahan shalawat.
                Juga dituntaskan baginya dengan setiap shalawat 100 hajat kebutuhan bahkan lebih banyak lagi.
                Sesungguhnya shalawat adalah ibadah dan merupakan amal yang paling dicintai oleh Allah ta’ala.
                Sesungguhnya shalawat adalah identitas (atribut) bahwa pelakunya adalah kalangan Ahlus Sunnah.
    Sesungguhnya para malaikat senantiasa menyampaikan rahmat pada pembaca shalawat selama ia bershalawat pada Nabi saw.
    Sesungguhnya shalawat bisa menghiasi majelis-majelis serta menafikan kefakiran dan kesulitan hidup.
    Sesungguhnya dengan shalawat dapatlah dicari tempat-tempat sangkaan kebaikan.
    Sesungguhnya pelaku shalawat lebih berhak atas syafaat beliau dan lebih dekat duduknya dari beliau pada hari kiamat.
    Sesungguhnya seseorang berikut anak keturunannya bisa mengambil manfaat terhadap shalawat dan pahala shalawat itu, begitu pula orang-orang yang dipersembahkan shalawat itu di dalam lembaran amalnya.
    Di antara faedah-faedah lainnya adalah shalawat bisa mendekatkan pada Allah azza wa jalla dan kepada Rasul-Nya.
    Juga shalawat merupakan cahaya pagi empunya di dalam kuburnya, pada hari di padang mahsyar, dan saat meniti di atas shirath.
    Pula shalawat dapat menolong mengalahkan para musuh, dan dapat mensucikan hari dari nifaq dan karat.
    Pula ia menyebabkan kecintaan orang-orang beriman, maka tidak membenci orang yang bershalawat melainkan orang munafiq yang tampak sekali kemunafikannya.
    Faedah lainnya adalah dapat bermimpi melihat Nabi saw. Jika dia biasa memperbanyak shalawat, dia bisa melihat beliau dalam keadaan terjaga.
    Faedah berikutnya adalah shalawat dapat mengurangi pengamalnya dari fitnahan atau gunjingan. Shalawat termasuk amal yang berkah, utama, dan terbanyak manfaatnya di dunia dan akhirat, dan pahala-pahala lainnya yang tidak bisa dihitung.
    Al-Fasi dalam Syarah Dalail berkata usai perkataan pengarang, “Shalawat merupakan perkara penting yang terpenting bagi orang yang menghendaki kedekatan terhadap Tuhannya tuhan-tuhan: Sisi pentingnya shalawat kepada Nabi saw. bagi orang yang menghendaki kedekatan kepada Tuannya adalah, antara lain:
    Di dalam shalawat terdapat tawassul kepada Allah ta’ala dengan kekasih dan sosok pilihan-Nya, sementara Allah ta’ala berfirman,
    وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ
    Dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya. (Q.S. al-Maidah: 35)
    Dan tidak ada wasilah kepada-Nya yang lebih agung daripada Rasul-Nya yang termulia.
                Di antara sisi lainnya adalah bahwa Allah ta’ala memerintahkan dan mendorong kita bershalawat dalam rangka memuliakan, menghormati, dan mengutamakan Nabi saw., dan Dia menjanjikan orang yang berupaya mengamalkannya hajat kebutuhan yang baik dan keberuntungan meraih pahala yang besar. Shalawat merupakan amal yang paling berhasil, ucapan yang paling unggul, kondisi yang paling bersih, pendekatan yang paling tepat, dan keberkahan yang paling merata. Dengannya seseorang bisa sampai kepada keridlaan Dzat Yang Maha Pengasih, diraih kebahagiaan dan keridlaan. Dengan shalawat pula keberkahan akan tampak, doa-doa dikabulkan, dan derajat tinggi bisa didaki, serta retaknya hati bisa ditutup dan dosa-dosa besar dimaafkan. Allah ta’ala memberikan wahyu kepada Musa (semoga shalawat dan salam terhatur kepada Nabi kita dan kepadanya): “Ya Musa, apakah kamu ingin aku lebih dekat kepadamu daripada ucapanmu kepada lidahmu, daripada suara desah hatimu kepada hatimu, daripada ruhmu kepada badanmu, dan daripada cahaya penglihatanmu kepada penglihatanmu?! “Iya, ya Rabb,” jawab Musa. Firman Allah, “Perbanyaklah shalawat kepada Muhammad saw.”
    Sisi lainnya adalah bahwa Nabi saw. dicintai oleh Allah azza wa jalla, kedudukannya agung di sisi-Nya, sedang Dia dan para malaikat-Nya telah bershalawat kepadanya, sekaligus memerintahkan orang-orang beriman bershalawat dan salam kepadanya, maka seharusnyalah mencintai kekasih dan mendektkan diri kepada Allah ta’ala dengan mencintai dan mengagungkan beliau, bershalawat kepadanya, dan menteladani shalawat Allah ta’ala dan shalawat para malaikat-Nya kepadanya.
    Di antara sisi pentingnya juga adalah keutamaan dan janji berupa pahala yang besar, dzkir yang agung, dan kebahagiaan orang yang melakukannya meraih ridla Allah ta’ala dan dipenuhinya kebutuhan akhirat dan dunianya.
    Sisi lainnya, di dalam shalawat terdapat aspek mensyukuri wasitah (perantara) di dalam nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkan pada kita, yang kita diperintahkan mensyukurinya. Maka tidak ada satu nikmat yang terdahulu maupun akan datang berupa penciptaan dan pemanjangan di dunia dan akhirat, melainkan beliaulah penyebab sampai dan berjalannya nikmat-nikmat itu kepada kita. Nikmat beliau atas kita adalah mengikuti pada nikmat-nikmat Allah ta’ala, sedang nikmat-nikmat Allah tidak bisa dibatasi hitungan, sebagaimana firman-Nya,
    وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
    Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. (Q.S. an-Nahl: 18)
                Maka wajilah atas kita memenuhi hak beliau. Kita wajib juga di dalam mensyukuri nikmatnya jangan sampai kendor (putus) bershalawat kepadanya di setiap masuk dan keluarnya nafas.
                Sisi penting shalawat juga adalah pengaruh dan kegunaannya yang telah teruji di dalam mencerahkan dan meningkatkan semangat, sehingga dikatakan bahwa shalawat itu cukup menjadi sebagai guru dalam tarekat dan bisa menempati kedudukan guru dalam tarekat itu.
                Sisi lainnya juga adalah bahwa di dalam shalawat ada rahasia kelurusan yang menghimpun kesempurnaan hamba dan menyempurnakannya. Di dalam shalawat atas Rasulullah saw. terdapat mengingat Allah dan Rasul-Nya. Dan tidaklah begitu kebalikannya. Kemudian berkata, “Dan di dalam kitabnya Ibnu Farhun al-Qurthubi disebutkan: Ketahuilah bahwa di salam shalawat ke atas Nabi saw. terdapat 10 kemuliaan,
    1. Shalawatnya Dzat Yang Maha Raja lagi Maha Perkasa.
    2. Syafaatnya Nabi yang terpilih.
    3. Mentauladani para malaikat yang mulia-mulia.
    4. Berbeda dengan kaum munafik dan kaum kuffar.
    5. Dihapusnya dosa dan kesalahan.
    6. Sebagai penolong dipenuhinya hajat kebutuhan.
    7. Sicerahkannya aspek lahir dan batin.
    8. Selamat dari rumah kebinasaan (jahannam).
    9. Masuk negeri kekekalan.
    10. mendaptkan salam Dzat Yang Penyayang lagi Maha Pengampun.

    Dan di dalam kitab ‘Hadaiqul Anwaar fish Shalah was Salam alan Nabi al-Mukhtar’ (taman-taman cahaya di dalam bershalawat dan salam kepada Nabi terpilih) disebutkan: Taman kelima mengenai buah-buah yang bisa dipetik seorang hamba terkait dengan shalawat kepada Rasulullah saw. berikut faedah-faedah yang bisa diraih,
    1. Melaksanakan perintah Allah swt. berupa bershalawat kepada beliau.
    2. Bersesuaian dan mencocoki Allah swt. di dalam bershalawat kepada Nabi saw.
    3. Bersesuaian dan mencocoki para malaikat di dalam bershalawat kepada Nabi saw.
    4. Bershalawat kepada Nabi sekali mendapatkan balasan sepuluh shalawat (rahmat) dari Allah swt.
    5. Diangkat sepuluh derajat.
    6. Dicatat sepuluh kebaikan.
    7. Dihapus sepuluh kesalahan.
    8. Doa seseorang mudah dikabulkan.
    9. Shalawat menjadi sebab (perantara) mendapatkan syafaat Rasulullah saw.
    10. Shalawat menjadi sebab dosa-dosa diampuni aib-aib ditutupi.
    11. Shalawat menjadi sebab seorang hamba dicukupi segala kesusahannya.
    12. Shalawat menjadi sebab seorang hamba dapat dekat dengan Rasulullah saw.
    13. Shalawat bisa bernilai laksana sedekah.
    14. Shalawat menjadi sebab berbagai kebutuhan terpenuhi.
    15. Shalawat menjadi sebab orang yang mengucapkannya mendapatkan shalawat dari Allah swt. dan para malaikat-Nya.
    16. Shalawat dapat menjadi zakat (pembersih, pemberkah, dan penyubur) jiwa.
    17. Shalawat menjadi sebab seorang hamba mendapatkan berita gembira berupa surga sebelum dia meninggal dunia.
    18. Shalawat menjadi sebab selamat dari malapetaka hari kiamat.
    19. Shalawat menjadi sebab orang yang mengucapkannya mendapatkan jawaban dan sambutan (respon) dari Rasulullah saw.
    20. Shalawat menjadi sebab seorang hamba mengingat hal yang dia lupakan.
    21. Shalawat menjadi sebab harumnya majelis, dan majelis yang diselenggarakan tidak akan menjadi kekecewaan pada hari kiamat.
    22. Shalawat menjadi sebab ditiadakannya kefakiran.
    23. Jika seorang hamba bershalawat usai nama beliau disebut, ia telah dinafikan dari predikat kikir dan pelit.
    24. Shalawat menyelamatkan seseorang dari predikat rendah dan hina, yakni manakala nama Rasulullah saw. disebut dan dia enggan bershalawat.
    25. Shalawat menempatkan seseorang pada titian jalan ke surga, dan bisa menyesatkan orang yang enggan shalawat jauh dari jalan surga.
    26. Shalawat menyelamatkan suatu majelis dari bau busuk manakala di dalam majelis itu tidak disebut asma Allah swt. dan Rasulullah saw.
    27. Shalawat menyebabkan kesempurnaan suatu ucapanyang dimulai dengan memuji Allah swt. dan bershalawat kepada Rasulullah saw.
    28. Shalawat menjadi sebab kesuksesan hamba melewati shirath (titian jalan menuju surga yang dipasang di atas neraka).
    29. Shalawat mengeluarkan seorang hamba dari gelar kaku dan keras kepala (al-jafa’).
    30. Shalawat menjadi sebab seseorang mendapatkan buah tutur yang baik dari Allah swt. di (kalangan penduduk) langit dan bumi.
    31. Shalawat menjadi sebab seseorang meraih rahmat Allah swt.
    32. Shalawat menjadi penyebab keberkahan.
    33. Shalawat menjadi penyebab langgeng, meningkat, dan berlipat gandanya kecintaan beliau. Dan itu termasuk simpul-simpul keimanan yang hanya bisa sempurna dengannya.
    34. Shalawat menjadi sebab kecintaan Rasulullah saw. kepadanya.
    35. Shalawat menjadi sebab seorang hamba mendapatkan hidayah dan hidup hatinya.
    36. Shalawat menjadi sebab nama seseorang dipaparkan dan disebut di sisi beliau.
    37. Shalawat menjadi sebab telapak kaki tegak dan kokoh di atas shirath.
    38. Shalawat berarti memenuhi sedikit hak Rasulullah saw. dan ungkapan terima kasih (balas jasa) kepada beliau atas berbagai nikmat yang diberikan Allah ta’ala melalui beliau.
    39. Shalawat mengandung dzikir kepada Allah swt. dan syukur kepada-Nya serta mengenal kebaikan-Nya.
    40. Shalawat kepada Nabi saw. dari seorang hamba adalah doa dan permohonan kepada Tuhannya azza wa jalla. Berarti ia satu kali berdoa untuk Nabi saw., dan pada kali lain untuk dirinya sendiri. Dan tidak diragukan bahwa di dalam hal ini terdapat kelebihan bagi seorang hamba.
    41. Buah dan faedah terbesar yang diraih dengan bershalawat kepada beliau adalah tercetaknya (terpatrinya) rupa beliau yang mulia di dalam jiwa.

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM


    Streaming Islam Android App on Google Playstore

    follow me

    VISITOR

    free counters