Syari'at Thoriqot dan Haqiqot

    Author: Ittihad Tihad Genre: »
    Rating


    Allah subhanahu wata'ala menuntut kita semua menjadi saalikul aakhiroh (orang yang meniti jalan akhirat). Maksudnya tinjauan hidup di dunia harus diarahkan kepada kepentingan yang jauh ke depan, pembangunan kehidupan akhirat. Pembangunan kehidupan akhirat hanya bisa dititi melalui jalur taqwa dan menghindari hal-hal yang merusak taqwa itu. Upaya meniti jalan akhirat ini kita tidak boleh tidak harus menempuh tiga jalur yang terkait erat (menurut ilmu tashawwuf), yaitu jalur syariat, jalur thariqat dan jalur haqiqat.
    Kenyataan umum di masyarakat, keberadaan tiga jalur tersebut seringkali dipraktekkan atau dipahami secara keliru. Contoh pertama, wujudnya thariqat dan haqiqat yang dipertentangkan dengan syari'at. Contoh kedua, thariqat umum diidentikkan dengan hanya membaca wiridan-wiridan tertentu. Ketiga, jika orang sudah mencapai tahapan haqiqat, dia boleh (ditolerir) bertindak semaunya, meski melanggar sunnah. Keempat, munculnya aliran IS (Ilmu Sejati), dlsb.
    Syekh Zainuddin Al Muabbari Al Malibary dalam bait-bait syi'ir yang digubahnya menyatakan, syari'at prakteknya adalah seseorang melaksanakan apa yang telah fardlukan oleh Allah swt kepadanya. Jalur syariah adalah asasi, mengingat tidak bisa ditempuh jalur berikutnya kecuali bila berangkat dari jalur ini. Nabi Muhammad saw bersabda:
    أَدِّ مَاافْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ مِنْ أَعْبَدِ النَّاسِ وَاجْتَنِبْ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ مِنْ أَوْرَعِ النَّاسِ رواه ابن عدى
    Kerjakanlah apa yang telah ditetapkan kefardluannya oleh Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi paling beribadahanya manusia, dan jauhilah apa yang telah diharamkan oleh Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi paling menjaga dirinya manusia.

    Berikutnya thariqat ialah mengambil suatu amalan dari sekian banyak amalan yang ada yang ada, yang diazami dilakukan dengan penuh kesemangatan dan dijadikan sebagai rutinitas, serta sebagai tumpuan harapan. Cara thariqah seperti ditempuh Ulama dahulu umumnya adalah waro' (hati-hati/menjaga diri) meski terhadap perkara-perkara yang mubah. Cara thariqah yang lain seperti nyantri, mendidik (murobbi), berpuasa sunnah, khidmah pada dakwah atau khidmah kepada aktifis dakwah, berinfaq, sholat tahajud, qiro'atul Qur'an, dan memperbanyak wiridan, dlsb.
    Sejarah menyatakan tidak ada Salafussholih dahulu kecuali mereka memiliki thariqah. Syekh Abdul Qadir Al Jailani misalnya berkata: "Aku tidak wushul kepada Allah swt dengan tahajud, tidak pula dengan puasa sunnah, akan tetapi aku wushul berkat kedermawanan, tawadlu' dan kepolosan hati." Itu artinya thariqah beliau adalah suka berinfaq, tawadlu dan polos hati.
    Jika direnungkan memang cukup banyak thariqah yang bisa ditempuh. Hal ini bisa kita lihat pada periode sahabat. Hanya saja menurut standar yang minimum, para sahabat tidak tenggelam tidur di malam hari dan mesti mengkhatamkan Al Qur'an setiap tujuh hari sekali. Dari sini seyogyanya kita memiliki thariqah, terlepas dari thariqah apa yang hendak kita pilih sebagai sebuah iltizamat, tentu saja dengan memperhatikan iltizamat yang telah ditetapkan sebagai komitmen anggota Jama'ah Dakwah.
    Haqiqat merupakan inti daripada dua jalur diatas, bahwa ibadah macam apa yang dilakukan semata-mata sandarannya adalah Allah swt. Amal tidak menjadi andalan, meski amalnya banyak. Jalur ini bisa ditempuh bila telah dilakukan perenungan yang mendalam dan ditemukan rahasia apa dibalik amalnya. Hasilnya adalah keikhlasan, yakin, tsiqoh billah, tunduk dan patuh, serta qonaah, sebagaimana kandungan kalimat Hauqolah. Jadi haqiqat meskipun berorientasi pada hati (bathin) tetapi dia bukanlah meninggalkan amal jasadi. Imam Al Hasan Al Bashri berkata: "Ilmu haqiqat yaitu meninggalkan perhatiaan terhadap pahalanya beramal, bukan meninggalkan beramal."
    Dengan demikian, ketiga jalur di atas nyatanya mempunyai keterkaitan yang erat yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Ibarat orang mau menambang mutiara yang mahal (haqiqat) dia mesti pakai kapal (syari'at) dan pergi ke laut (thariqat). Atau ibarat orang memproduksi minyak kelapa (haqiqat) ia harus mengambil isi kelapa (thariqat) setelah memecah kulitnya (syari'at). Karena itu kita memang harus melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah swt, sekaligus punya thariqoh, dengan menyertakan haqiqat. Prinsip kita akhirnya, yang pokok harus beramal. Kalaulah diberi pahala, alhamdulillah, itu adalah anugerah, dan kalau pun disiksa itu keadilan dari Allah swt. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi bekal kita dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadlan. Marhaban yaa Ramadhan. qqq

    Wallahu Subhanahu Wata'ala A'lam.

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM

    follow me

    VISITOR

    free counters