Dzikrullah, Kebersaman dengan Allah

    Author: Ittihad Tihad Genre: »
    Rating



    Allah senantiasa bersama hamba yang menyebut dan mengingatNya. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan sebuah firman Allah:
    …dan Aku bersamaNya jika ia menyebutKu…”HR Bukhari Muslim.
    Dalam riwayat Imam Bukhari ada tambahan, “… dan dua bibirnya bergerak (menyebut)Ku…”. Maksud kebersamaan dengan Allah adalah Allah memandang orang berdzikir dengan pandangan rahmatNya. Allah memberinya bimbingan pada kebenaran dan taufiq melakukan kebaikan.Inilah yang disebut dengan kebersamaan secara khusus denganNya (Ma’iyyah Khaasshah) dan tidak bertentangan dengan kenyataan adanya kebersamaan secara umum (Ma’iyyah Aammah) semua hamba dengan Allah azza wajalla sebagaimana dalam firmanNya:Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.QS al Mujadilah:7.
    Adanya bimbingan Allah kepada orang yang berdzikir menunjukkan bahwa Dzikrullah adalah modal awal bagi munculnya amal-amal kebaikan yang lain. Sebaliknya hati yang senantiasa melupakan Dzikrullah pemiliknya sama sekali tidak mendapatkan bimbingan dari Allah yang akibatnya apa yang ia lakukan sama sekali tidak membawa manfaat bagi dirinya. Dan untuk selanjutnya ia masuk dalam kategori orang Fasiq. Tentang orang seperti ini Allah berfirman:
    Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.QS al Hasyr:19.
    Imam Ibnul Katsir berkata: [Jangan kalian melupakan Dzikrullah sebab Allah akan melupakan kalian dari aktivitas untuk kebaikan diri yang manfaatnya bisa kelak ditemukan di akhirat nanti. Sungguh balasan sesuai dengan amal perbuatan. Karena itulah Allah berfirman: “merekalah orang-orang fasiq” yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan yang mengalami kehancuran pada hari kiamat.][1]
    Ini karena melupakan Allah pasti berdampak pada melupakan perintahNya dan melanggar laranganNya yang pada ujungnya seseorang menjauh dari standar ketaqwaan. Terkait ayat di atas Imam Ibnul Qayyim al Jauziyyah mengatakan:
    [Allah memerintahkan manusia agar bertaqwa kepadaNya dan hendaknya kaum beriman tidak meniru orang-orang yang melupakan Allah dengan meninggalkan ketaqwaan. (untuk hal ini Allah mengancam) akan menyiksa orang yang melupakanNya dengan ancaman dilalaikan akan dirinya sendiri; maksudnya dilalaikan dari kebaikan-kebaikannya, apa yang menyelamatkannya dari siksaNya, dan apa yang menjadikan dirinya berhak merasakan kelezatan dalam kehidupan abadi…]
    Ibnul Qayyim melanjutkan: [Derita paling berat adalah ketika seorang hamba melupakan dan menelantarkan dirinya sendiri. Menyia-nyiakan bagiannya dari Allah serta menjualnya dengan harga teramat rendah. Ia menyia-nyiakan Dzat yang dirinya tidak bisa berlepas diri dariNya dan tidak pula selamanya ia bisa mendapatkan apapun yang bisa menggantikanNya]
    Luqman al Hakim berwasiat: [Wahai anakku, aku wasiatkan taqwa kepadamu…jangan sepikan mulutmu dari Dzikrullah…][2].Dalam hikmah dikatakan:
    Segala sesuatu yang kamu sia-siakan pasti ada gantinya, tetapi tidak ada ganti jika kamu menyia-nyiakan Allah
    Orang yang lalai dari Dzikrullah disebut sebagai orang yang melupakan dan menjauhkan dirinya karena begitu ia melupakan Allah berarti ia tidak berada dalam bimbingan Allah. Ia beralih ke dalam lingkaran setan. Hatinya tergerak oleh dorongan-dorongan setan sehingga banyak kesalahan-kesalahan yang akan muncul darinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan peringatan:
    Sesungguhnya setan meletakkan belalainya di hati anak Adam; bila ia mengingat Allah maka setan segera mundur seketika dan bila ia melupakan Allah maka hatinya akan ditelan oleh setan”[
    Hadits ini terkait dengan firman Allah:
    dari kejahatah bisikan setan yang begitu mudah mundur”QS An Naas:4.
    Waswas adalah godaan
    Sedang orang yang menggoda adalah Muwaswis. Sementara dalam ayat ini setan disebut oleh Allah sebagai Waswaas sebab godaannya begitu kuat. Usahanya tidak pernah mengenal lelah untuk menyesatkan manusia. Karena itulah secara langsung Allah menyebutnya Waswaas, tidak Muwaswis. Hal ini sama halnya dengan ungkapan “Penyakit datang, hati-hati!” yang maksudnya adalah orang yang biasa membuat penyakit, kisruh, gaduh dan masalah datang maka berhati-hatilah.
    Kendati sampai pada tingkat disebut Waswaas, setan juga disebut oleh Allah al Khannaas, dari kata Khanasa yang artinya mundur. Jika dalam bahasa al Khannaas berarti bermakna sangat mundur atau bersegera dan terburu-buru mundur; yakni ketika dalam ruangan hati tersebut telah terukir nama Allah.

    [1] Lihat Tafsiir Ibnu Katsiir tafsir QS al Hasyr/19
    [2] Az Zahir/365
    [3] HR Ibnu Abi Dun’ya, Abu Ya’la, Baihaqi.

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM

    follow me

    VISITOR

    free counters