Author: Ittihad Tihad Genre: »
    Rating


    Mayoritas manusia dan bahkan mungkin sudah menjadi karakter umum manusia, sangat enggan untuk menyebut nama musuh atau orang yang membenci dan dibenci, apalagi menuturkan kebaikan– kebaikannya. Tetapi bagi manusia yang berlapang dada seperti halnya manusia Salaf tidak demikian halnya. Kebencian, ketidak cocokkan atau kejahatan orang lain tidak menjadikan lidah keluh untuk menyebut dan mengatakan dengan terus terang dan lengkap seputar kebaikan orang lain. Suatu ketika orang–orang menyebut Amar bin Ash ra di hadapan Khalid bin Walid ra, padahal antara keduanya ini sedang ada masalah. Mendengar Amar disebut, Khalid dengan kebesarang jiwanya mengakui terus terang kebaikan–kebaikan Amar. Saat orang–orang bertanya, “Bukankah Amar membenci anda?” maka dengan tegas Khalid menjawab, “Apa yang terjadi di antara kami tidak sampai menyentuh urusan agama”

    Sikap dan tindakan obyektif kepada musuh atau siapa saja yang tidak sepaham tidak jarang dan memiliki peluang besar menjatuhkan manusia dalam lembah ketidak adilan dan cenderung menjauh dari kebenaran. Karena itulah Alqur’an mengingatkan:

    ...وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـئَانُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوْا ...
    “…dan janganlah sesekali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil…”QS al Ma’idah: 8.

    Tidak memusuhi seorangpun dari umat Islam. Inilah satu prinsip yang harus dianut dan selalu diingat, sebab semua orang Islam itu saudara. Meskipun mereka telah berbuat salah, akan tetapi kebaikan– kebaikan juga tertanam dan muncul dari mereka kepada kita. Memang hal ini tidaklah mudah, tetapi bagi siapa saja yang bisa dan mampu melakukannya maka baginya pahala surga. Adalah Imam Sya’rani, seringkali Beliau dicela, berusaha diusir dan dikeluarkan dari Mesir dan dalam kitab–kitab tulisan Beliau banyak diselipkan uraian–uraian yang bertentangan dengan Aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Meski begitu Beliau dengan tulus menyebut kebaikan prilaku orang–orang yang telah berbuat zhalim terhadapnya. Dalam prinsip Beliau, ini semua bisa dilakukan tak lebih karena Inayah atau pertolongan dari Allah. Beliau senantiasa mengingat, pesan Alqur’an selalu terngiang di telinganya bahwa keburukan jangan dibalas dengan keburukan tetapi dibalas dengan kebaikan. Api tidak dimatikan dengan api, tetapi dipadamkan dengan air, “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik”QS al Mu’minun: 96.

    Sikap mengakui dan menghargai kebaikan lawan dan jasa orang yang dibenci telah dengan jelas diajarkan oleh Allah Subhaanahu Wata’aala ketika Dia yang menyatakan perang dan sangat benci dengan Abu Lahab, “Celakalah kedua tangan Abu Lahab…”QS Tabbat. ternyata masih memberikan penghargaan berupa meringankan siksaan atas Abu Lahab setiap hari Senin karena Abu Lahab mempunyai kebaikan berupa memerdekakan sahaya bernama Tsuwaibah karena kabar gembira yang disampaikan tentang kelahiran Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Sungguh sikap Obyektif terhadap lawan ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh manusia–manusia yang berjiwa besar yang salah satunya bisa diperoleh dari keluasan ilmu dan wawasan.

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM

    follow me

    VISITOR

    free counters