Lapang dada

    Author: Ittihad Tihad Genre: »
    Rating

     
    Salah satu dari Asma’ul Husna adalah al Afuwwu, yang artinya: Allah adalah Dzat Maha Pemaaf yang melebur keburukan–keburukan (Sayyi’aat) serta memaafkan kemaksiatan–kemaksiatan. Al Afuwwu masih berdekatan dengan nama Allah al Ghafuur , Maha Pengampun, hanya saja Permaafan lebih dari sebuah Pengampunan, sebab pengampunan hanya diikuti dengan penutupan (kasus) sementara permaafan disertai dengan penghapusan kasus.

    Dalam rangka menerapkan karakter ketuhanan ini, seseorang harus belajar dan terus belajar menjadi orang yang lapang dada atau berbesar hati sebagaimana Nabi Musa  alaihissalam berdo’a kepada Allah:
    “Musa berkata “Ya Tuhanku lapangkanlah dada saya!” QS. Thaha: 25.

    Maksudnya luaskanlah hati saya (besarkanlah hati saya) supaya tidak menjadi sempit (agar tak berkecil hati) menghadapi kebodohan para penantang serta tidak merasa gentar dengan kekuatan dan jumlah mereka yang besar. Disebutkan bahwa ketika menerima perintah melawan Fir’aun dan pasukannya, nyali Nabi Musa alaihissalam  ciut, tetapi karena ketundukan penuh kepada Allah, maka Beliau berdo’a supaya hatinya dilapangkan olehNya agar hati itu meyakini bahwa siapapun tak memiliki daya menimpakan bencana atau bahaya kecuali atas kehendakNya.

    Selanjutnya perlu dimengerti bahwa bahasa Lapang Dada tak lebih dari sebuah bahasa kiasan dari hati yang besar dan bersih penuh dengan cahaya ilahi. Jika Nabi Musa alaihissalam  meminta hal tersebut maka sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga telah menerimanya dari Allah Swt:

    “Bukankah telah Aku lapangkan untukmu dadamu (hatimu)?”QS. al Insyirah: 1.
    Bias cahaya dari sikap berbesar hati berlapang dada di antaranya adalah seperti berikut:

    1)      Sikap tidak peduli, tidak memandang dan tidak mendengarkan (Ighdho’) omongan– ongan orang bodoh. Oleh Alqur’an sikap ini disebut menjadi salah satu karakter Ibaadur Rahmaan (para hamba Alloh Maha Pengasih) , “Dan jika orang–orang bodoh melemparkan omongan kepada mereka maka mereka berkata: Selamat!” QS. al Furqaan: 63, maksudnya jika ada orang bodoh yang mengeluarkan kata–kata kotor dan kasar kepadanya maka sama sekali tidak membalas dengan kata– kata serupa, justru dia berlapang dada dan berbesar hati memaafkan serta membalas dengan kata– kata yang baik.

    Pernah ada seorang mencaci temannya di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tetapi orang yang dicaci malah membalas: “Semoga keselamatan atasmu!” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada orang yang dicaci:  “Sesungguhnya di antara kalian berdua ada malaikat yang membelamu setiap kali ia mencacimu”Beliau melanjutkan: “dan bila kamu mengucapkan selamat kepadanya (pencacimu) maka malaikat itu berkata: “Tidak, kamu yang lebih berhak dengan ucapan salam itu”. HR. Ahmad. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  pernah dicaci maki oleh Abu Jahal dalam suatu kesempatan. Abu Jahal mencaci Beliau serta agama yang Beliau ajarkan, akan tetapi Beliau sedikitpun tidak membalas dan pergi begitu saja saat Abu Jahal telah memuaskan egonya. Sikap ini menarik simpati dari seorang wanita yang kebetulan menyaksikan drama tidak seimbang tersebut. Wanita itu lalu melaporkan apa yang dia saksikan kepada Hamzah yang tidak lama juga melintas di tempat kejadian. Wanita itu berkata kepada Hamzah: “Wahai Abu Imarah, andai saja anda melihat apa yang menimpa keponakan anda barusan niscaya anda pasti marah, Abu Jahal telah mencela dan mencacinya habis–habisan, tetapi keponakan anda diam dan tak sepatahpun membalas!”

    Kabar ini terasa memilukan hati Hamzah hingga kemarahannya kepada Abu Jahal memuncak. Dia segera mencari Abu Jahaldan memukul Abu Jahal  dengan busur sampai wajah Abu Jahal berdarah. Kepada Abu Jahal, Hamzah berkata: “Apakah kamu akan menyakiti Muhammad, padahal aku telah memeluk agamanya?” Sesudah itu Hamzah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  dan menyatakan diri masuk Islam.

    Ayat di atas oleh mayoritas ulama menjadi dasar bahwa tidak menghiraukan (Ighdho’) omongan orang bodoh merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan baik ditinjau dari segi etika, muru’ah  maupun syaria’ah, bahkan sikap tidak menghiraukan tersebut lebih aman dalam menjaga kehormatan diri. Dalam sebuah syair hikmah dikatakan: Jika ada orang bodoh berbicara maka jangan dijawab, sebab jawaban terbaik bagianya adalah diam.

    Bersikap seperti  pesan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada Uqbah bin Amir: “Sambunglah orang yang memutuskanmu, berilah orang yang tidak mau memberimu dan berpalinglah dari orang yang menganiayamu” HR. Ahmad.
    Ada tiga sikap berlapang dada dan berbesar hati yang diajarkan dalam hadits ini;
    a) Menyambung orang yang memutuskan, mengunjungi orang yang tidak pernah berkunjung kepada kita. Adapun realitas saling mengunjungi maka hal itu sebuah sikap yang sangat manusiawi dan seimbang, maka tidak masuk dalam kategori berlapang dada. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Penyambung sejati bukanlah orang yang membalas jasa, tetapi orang yang jika diputuskan maka segera dia menyambung” HR. Bukhari.
    b) Memberi kepada orang yang tidak memberi kita (berderma kepada orang yang kikir), atau memberikan sesuatu kepada orang yang suka menjegal langkah kita.
    c) Berpaling dari orang yang zhalim. Membalas kepada orang yang berbuat zhalim memang dibenarkan sesuai dengan kadar kezhaliman, akan tetapi jika tidak membalas maka itu sungguh bernilai tinggi di sisi Allah: “Dan jika kalian hendak melakukan pembalasan maka balaslah sesuai dengan apa yang mereka lakukan, tetapi jika kalian mau bersabar maka sesungguhnya itu lebih baik bagi orang–orang yang bersabar” QS. an Nahl: 126.

    Kemenangan yang diraih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  dan pasukan Islam  dalam peristiwa penaklukan Makkah tidak lantas menjadikan mereka lepas kontrol, melampiaskan amarah menuntut balas atas segala yang pernah dilakukan oleh orang kafir. Andai saja waktu itu kaum muslimin menuntut balas maka sungguh sangat layak, tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  dengan kebesaran jiwa dan kelapangan dada malah bertanya: ”Wahai orang–orang Quresy, apa kiranya yang hendak aku lakukan terhadap kalian?” Mereka menjawab: “Engkau adalah saudara kami yang murah hati dan putra saudara kami yang baik budi”. Menanggapi jawaban mereka, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku katakan kepada kalian seperti yang dikatakan oleh Yusuf kepada para saudaranya “Kalian tidak bersalah, pergilah karena kalian semua merdeka”. Abu Bakar ra. juga demikian, kecemburuan sebagai seorang ayah membuatnya mengambil keputusan tidak akan lagi menanggung biaya hidup Misthah bin Utsatsah yang turut ambil bagian dalam menyebarkan berita bohong tentang Aisyah ra., hingga turunlah ayat yang intinya menegaskan supaya Abu Bakar berbesar hati dengan tetap menanggung biaya hidup Misthah seperti selama ini telah berjalan. Allah berfirman: “Dan janganlah orang–orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya, (yaitu) orang–orang miskin dan yang berhijrah di jalan Allah, hendaknya mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian…” QS. an Nuur: 22.

    Berlapang dada memang bukan suatu hal yang mudah, tidak mempedulikan kata–kata cercaan orang yang bodoh, menyambung orang yang memutuskan, memberi orang yang pelit serta berpaling dan melupakan kezaliman yang dilakukan oleh orang lain atas diri kita memang bukan hal yang gampang, akan tetapi dengan mengingat janji Allah yang teramat besar berupa ampunan mungkin sedikit akan memudahkan jika memang keimanan kita sedang dalam kondisi subur. Dan mungkin langkah untuk berbesar hati terasa lebih mudah jika kita melihat sebuah kemungkinan bahwa bisa jadi apa yang dilakukan oleh orang lain tehadap kita -seperti kita dicaci, diputuskan, tidak diberi sesuatu atau dianiaya–tidak lain adalah sebagai respon atau reaksi atas apa yang kita lakukan sendiri. Jika berbesar hati dan berlapang dada atau berbuat santun ini bisa menjadi ciri khas dan watak kita maka silahkan menunggu janji Allah ta’ala seperti tertulis dalam sebuah hadits yang artinya:  “Ketika Allah mengumpulkan seluruh makhluk pada hari kiamat maka ada orang yang memanggil supaya para ahli keutamaan bangkit serta dikatakan kepada mereka masuklah ke dalam surga! Malaikat bertanya: Hendak ke manakah kalian? Ke surga, jawab mereka. Malaikat bertanya: Sebelum dihisab? Mereka menjawab: Ia. Siapa kalian? Tanya Malaikat. Mereka menjawab: Kami para ahli keutamaan. Malaikat bertanya: Apa keutamaan kalian? Mereka menjawab: Jika kami dibodoh–bodohkan maka kami berlaku santun, jika dianiaya kami bersabar, dan jika diperlakukan buruk maka kami memaafkan. Kemudian dikatakan kepada mereka: Silahkan memasuki surga, sebaik- baik pahala orang yang beramal“ (Hadits ini termuat dalam Tafsir Tanwirul Adzhaan)

    2)      Menahan kemarahan, “…dan orang–orang yang menahan kemarahan…”QS. Ali Imran: 134.  Seorang lelaki bertanya: “Wahai Nabi Allah, tunjukkanlah kepada saya amal yang bisa memasukkan saya ke surga!” Nabi shallallahu alaihi wasallam  menjawab: “Jangan marah dan bagimu surga” HR. Thabarani. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menahan amarah, padahal dia mampu untuk menurutinya maka Allah pasti memanggilnya di depan pandangan semua makhluk hingga Allah mempersilahkan baginya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki”HR. Abu Dawud Turmudzi. []

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM

    follow me

    VISITOR

    free counters