AL KHOUF WAT TAWAQQUF

    Author: Ittihad Tihad Genre:
    Rating






    Setiap manusia tidak lepas memiliki naluri mempertahankan hidup (gharizatul baqo'). Ekspresi dari naluri itu bahwa sejak dahulu manusia memiliki sikap Al Khauf (takut). Dan adanya sikap ini pada diri manusia dengan berbagai tingkatannya; sedikit atau banyak, sama sekali tidak mempengaruhi tingkat keimanan. Namun begitu, sebagaimana terhadap naluri lawan jenis dan naluri beragama, Islam tidak melenyapkan sikap itu di satu sisi dan di sisi lain Islam juga tidak membiarkannya. Islam dengan ajarannya mengarahkan ekspresi naluri itu kepada jalur yang benar, yaitu hendaknya Al Khauf tidak menghalangi aktifitas jihad fi sabilillah.
    Dari berbagai bentuk ketakutan-ketakutan yang ada, sesungguhnya yang paling ditakuti manusia adalah datangnya kematian.1 Al Qur'an menggambarkan bahwa kematian adalah musibah terbesar yang akan dialami manusia.2 Dari sini meski sadar bahwasannya kematian berada di tangan Allah swt semata, manusia pada umumnya takut melakukan atau memasuki hal-hal yang menjadi jalaran datangnya musibah tersebut. Manusia yang tidak sadar, tentunya akan lebih ketakutan lagi. Karena itu kenyataan menunjukkan manusia takut dibunuh, takut disantet, takut diculik, takut diteror, dan lain sebagainya. Ini semua manusiawi, asal tidak berlanjut menjadi sifat Jubn (lemah, bahasa Jawa: jerih)
    Kepada kaum muslimin, khususnya kepada mereka yang berniat menjadi da'i, Islam mengarahkan hendaknya jangan takut mati manakala berdakwah di jalan Allah swt. Karena menurut para Ulama, mati tidak lebih adalah terputusnya hubungan ruh dengan badan; pergantian suasana; atau perpindahan dari rumah satu ke rumah yang lain.3 Mati bahkan adalah penghapus dosa bagi setiap orang Islam.4 Dalam berdakwah tidak boleh berharap bertemu musuh, tetapi jika bertemu, tawakkal dan bersabarlah. Berlari saat bertemu musuh (Al Firor minaz Zahfi) adalah dosa besar dan termasuk perbuatannya orang-orang munafiq.
    Arahan di atas memang tampak agung, namun amat berat rasanya. Tetapi di balik itu Allah swt menyediakan balasan yang luar biasa bagi da'i yang mati syahid.5 Kelak ruhnya berada pada burung hijau yang memiliki lampu-lampu bergantungan di Arasy yang membawanya pergi dari surga kemana disukai.6 Nilai-nilai inilah yang mendorong para sahabat menyingkirkan perasaan takutnya manakala genderang jihad telah ditabuh bertalu-talu dengan penuh ketegaran. Sampai-sampai menjelang jihad yang paling sulit; peperangan Badar sekali pun mereka dahului dengan sikap kantuk massal. Sahabat Abu Tholhah bercerita: "Aku termasuk salah seorang yang dilanda kantuk berat, sampai pedangku lepas dari tanganku berulang-ulang. Tiap kali jatuh aku ambil. Jatuh lagi aku ambil lagi dan seterusnya."
    Sahabat Abdullah bin Mas'ud berkata:
    النُّعَاسُ فِى الْقِتَالِ مِنَ اللهِ وَ فِى الصَّلاَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ
    Kantuk dalam peperangan itu dari Allah swt sedang kantuk dalam sholat itu dari setan.
    Ketidaktakutan pada kematian di atas tentu pas apabila diaktualisasikan pada saat merebak upaya teror dan isu penculikan aktifis pembinaan Islam yang langsung atau tidak langsung berkait dengan strategi Yahudi dan Nasrani memecah belah ummat Islam itu. Kondisi yang mengarah pada percaturan siasah yang cenderung kotor7 ini menuntut kita semuanya membangkitkan sifat syajaa'ah (yang adil). Dalam arti sikap khouf jangan dijadikan alasan misalnya untuk tidak aktif mengaji, meliburkan pembinaan dan mengurung diri di dalam rumah. Jika pasifitas ini yang dipilih, dikhawatirkan proses dakwah membina ummat yang teramat penting justru mengalami kemunduran. Sebuah kondisi yang diharapkan oleh musuh-musuh Islam. Padahal -jika tidak salah- inilah kesempatan tepat untuk mulai memasukkan materi pendidikan sabar, tawakkal dan syajaa'ah serta dzikir-dzikir, sehingga terbentuk kader untuk kejayaan Islam. Toh kita tidak akan mati, jika ajal belum waktunya. Allah swt berfirman:
    وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِـْينَ
    Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling berjaya, jika kamu orang-orang yang beriman.8

    *****

    Sikap At Tawaqquf yang kita telurkan sebagai ijtihad Jama'ah menyikapi kondisi siasah yang cenderung mengabaikan akhlakul karimah saat ini, seperti tidak ikut (mendukung) partai berbasis ummat Islam dan menghindari adanya tanaazu' kerapkali menimbulkan berbagai pertanyaan, apalagi ketika partai politik saat ini disebut-sebut sebagai sarana perjuangan Islam di pentas nasional yang efektif, sementara Jama'ah Dakwah ini prioritasnya hanya Tafaqquh Fiddin. Pertama, Jamaah Dakwah ini tidak bergerak dengan menjadikan waaqi'atul haal (kondisi yang ada) sebagai dalil, sehingga hukum dibuat lentur menurut zaman dan tempat.
    Kedua, khitthoh (garis perjuangan) Jamaah Dakwah sekaligus konsep-konsepnya selama ini insya'allah ijtihadnya berdiri di atas landasan Al Qur'an dan As Sunnah. Sehingga ia adalah hukum syara' yang di situ terdapat maslahah, yang mengikat setiap anggota Jama'ah. Ketiga, dengan hasil ijtihad ini, Jama'ah Dakwah tidak berarti menyalahkan ijtihad jama'ah atau indifidu lain yang berbeda.
    Mudah-mudahan dua sikap ini (Al Khouf tidak menjadi alasan menghentikan aktifitas Dakwah dan keteguhan dalam At Tawaqquf), menjadi modal kita semua menghadapi kondisi fitnah dalam percaturan siasah sekarang ini.
    والله سبحانه وتعالى أعلم
    1 Kematian disebut juga Al Wafaatul Kubro atau Al Qiyamah As Shughro.
    2 قال تعالى: فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيْبَةُ الْمَوْتِ
    "... Lalu kamu ditimpa musibah kematian." Lihat Al Qur'an surat Al Maidah: 106.
    3 Menurut para Ulama:
    الموت ليس بعدم محض ولافناء صرف وإنما هو انقطاع تعلق الروح بالبدن ومفارقته وتبدل حال وانتقال من دار إلى دار
    Lihat At Tadzkiroh fi Ahwaal Al Mautaa wa Umuur Al Akhiroh; Al Qurthuby: 4 dan Arruh; Ibnu Qayyim Al Jauziyyah: 45.
    4 Hadits: كفارة لكل مسلم الموت "Mati adalah penghapus dosa bagi setiap orang Islam." HR. Abu Nu'aim. Menurut Ibnu Al Aroby, hadits ini shohih-hasan.
    5 Menurut riwayat Imam Ibnu Majah dan Imam At Tirmidzi, orang yang mati syahid mendapatkan enam perkara di sisi Allah swt: 1) Diampuni dosanya bersamaan memancurnya tetesan darah pertama kali. 2) Diperlihatkan kedudukannya di surga. 3) Diselamatkan dari siksa kubur dan diberikan keamanan pada hari qiamat. 5) Diletakkan pada kepalanya mahkota kebesaran. 6) Dinikahkan dengan 72 istri dari kalangan bidadari. Lihat Arruh: 100.
    6 Lihat tafsiran surat Ali Imron: 169 pada tafsir Ibnu Katsir I/523.
    7 Prof. Dr. Assayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani menyebut siasah ada dua. Pertama; As Siasah Al Aadilah. Kedua; As Siasah Al Baathilah. As Siasah Al Bathilah yaitu politik yang tidak menyertakan akhlakul karimah, atau politik yang bertentangan dengan syara'. Lihat Arrisalah Al Islamiyah: 57
    8 QS. Ali Imron: 139.

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM

    follow me

    VISITOR

    free counters