Negeri Para Pengemis

    Author: Ittihad Tihad Genre: »
    Rating


    "Dibacanya buku yang baru tadi malam ia beli saat mampir ke sebuah tokoh di kotanya". Lumayan sekedar untuk melupakan rasa gerah kepanasan yang menderanya. Belum satu halaman ia selesaikan, mendadak tengadah tangan sudah terlihat di depan hidungnya dan mengusik konsentrasinya, ia angkat wajah dan melihat, ternyata tangan itu adalah milik seorang anak perempuan kecil yang berdiri di luar kaca angkutan, anak itu kelihatan lusuh, rambut awut-awutan serta wajah yang agak kehitaman. “Mas tolong kasihanilah saya,” segera Agus merogoh saku dan mengambil uang ribuan lalu meletakkan uang itu di tangan si bocah. Agus memang agak royal, ia tak biasa dan tak bisa menolak permintaan jika memang ada yang diberikan. Setelah bocah itu pergi, Agus pun kembali meneruskan aktivitasnya yang sempat terhenti sejenak. Tak lama, seorang wanita separuh baya dengan menggendong anaknya datang seraya menyodorkan sebuah panci plastik, “Maas, nyuwun sedekah ipun,” lirih sekali suara itu, dan rasanya tak kuasa untuk tidak mempedulikannya. Sebenarnya Agus agak jengkel karena beruntun didatangi oleh para peminta, tetapi untuk kali ini ia pun segera merogoh sakunya dan meletakkan lembaran uang ribuan di panci wanita itu. “Kenapa uang recehan tadi semuanya aku berikan kepada pengamen sewaktu di bis,” gumam Agus dalam hatinya sesaat setelah wanita itu berpaling darinya. Maklum, memberikan secara beruntun uang seribu bagi Agus memang tidak gampang. Yah, karena memang sampai saat ini Agus masih hidup di bawah naungan keluarganya. Agus membesarkan dan berusaha menyiramkan air ikhlas ke dalam hatinya, Agus meyakinkan hatinya bahwa Alloh pasti memberi ganti kepada hambaNya yang berinfaq, dan Agus juga masih ingat bahwa Rosululloh Saw, Sang idolanya tidak pernah mengembalikan orang yang meminta dengan tangan hampa.
    Setelah dirasa cukup berbicara dengan hatinya, Agus mengajak matanya untuk kembali melihat tulisan-tulisan di buku barunya itu. Ia menarik nafas agak panjang sebagai reaksi rasa jenuh yang kini mulai mengusiknya. Fikirannya sama sekali sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi dengan bacaannya. Maklum, karena hatinya sudah mulai tak sabar, sudah hampir setengah jam ia duduk di dalam, tetapi belum juga terlihat tanda angkot ini akan berangkat Di tengah kekesalan itu, seorang pengemis tua menghampirinya, tanpa kata bapak tua itu langsung menyodorkan tangan meminta belas kasihan. Agus tidak mempedulikannya, kali ini kekesalan Agus makin bertambah, dalam hati ia mulai bertanya apakah para pengemis ini saling berkomunikasi, saling memberitahukan bahwa di sana ada orang yang pemurah. Merasa diacuhkan, pengemis tua itupun pergi. Sebenarnya Agus tidak tega mengacuhkannya, tetapi kali ini Agus berfikiran, kalau para pengemis it uterus diberi, maka mereka akan malas bekerja dan justru meminta akan mereka jadikan pekerjaan. Sampai di sini Agus ingat bahwa Rosululloh Saw melarang umatnya menjadi peminta, kecuali kalau memang terpaksa. Agus merasa bahwa kebanyakan dari para pengemis yang berkeliaran itu sebenarnya mampu dan bisa bekerja, hanya saja karena terlalu asyik meminta maka mereka akhirnya enggan bekerja, apalagi hasil dari meminta mungkin lebih banyak daripada kuli bangunan atau kuli pasar. Inilah manusia sekarang, enggan bekerja keras, tetapi ingin kaya ingin hidup mewah, setetes keringat sejuta harap.
    Sambil melihat-lihat gedung-gedung bertingkat di sepanjang jalan yang dilalui oleh angkot yang ia tumpangi, Agus terus berfikir tentang hal yang ia alami di terminal barusan, kenapa sekarang di terminal banyak pengemis berkeliaran, bahkan di sepanjang jalan menuju peron, kiri kanan jalan dipenuhi oleh orang-orang cacat yang seluruhnya sama, meminta belas kasihan atau sedakah kepada setiap orang yang lalu lalang di depan mereka. Tidak hanya di terminal, di pasar, perempatan jalan atau di area pemakaman, para pengemis menjadi fenomena tersendiri. Kenapa mereka meminta memang perlu ditanyakan, tetapi yang terpenting ditanyakan adalah, bagaimana mereka bisa dengan rutin ada di sepanjang jalan atau di tempat itu setiap hari, dari pagi hingga sore, padahal mereka ada yang buta, kaki hanya tinggal sebelah dan cacat-cacat yang lain. Fikiran Agus terus berjalan, akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa para pengemis itu meminta semata-mata bukan terdesak oleh kebutuhan makan, tetapi lebih karena ingin mendapatkan uang dengan mudah tanpa harus memeras keringat. Dan sangat mungkin para pengemis itu meminta bukan untuk diri sendiri, tetapi mereka memang dimanfaatkan oleh orang-orang disekitarnya. Sungguh sangat kasihan!, jika begini halnya maka aktivitas sebagai peminta memang sebagai sebuah kesengajaan atau dengan kata lain sudah terlembagakan.

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM

    follow me

    VISITOR

    free counters