Dua Mata Rantai Ittiba’ dan Ta’zhim kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam

    Author: Ittihad Tihad Genre: »
    Rating



    Allah tabaaraka wata’aalaa berfirman:

    “Sesungguhnya Kami Mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Agar kalian beriman dengan Allah dan rasulNya sekaligus menguatkan dan memuliakannya dan juga kalian mensucikanNya di waktu pagi dan sore hari”QS al Fath:8-9.

    Banyak sekali ayat dan hadits tentang kewajiban mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam zhahir dan bathin. Ini karena memang Beliau diutus agar diikuti sebab wahyu yang diterimanya serta sifat-sifat sempurna yang ada dalam dirinya yang terkandung dalam firmanNya: “Sungguh dalam diri Rasulullah ada teladan baik bagi kalian” QS al ahzab:21. “Sesungguhnya engkau berada di atas pekerti yang agung”QS al Qalam:4 .dan sebab kesaksian para sahabat Beliau yang menyatakan bahwa: “Akhlak Rasulullah adalah Alqur’an”

    Sementara ayat di atas memberikan petunjuk pada sisi lain terkait  hak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atas umatnya yang berupa kewajiban mengagungkan Beliau shallallahu alaihi wasallam.

    Syekh Zainuddin al Malibari  dalam nazham Syuabul Iman berkata:

    “Cintailah nabimu dan agungkanlah ia. Kikirlah dengan agamamu pada apa yang terlihat dosa ada pada dirimu”

    Imam al Bushiri dalam Burdahnya berkata:

    “Tinggalkanlah pengakuan Nashrani tentang Nabi mereka.  Dan lakukan pujian untuknya (Nabi shallallahu alaihi wasallam) sesukamu!”

    Terdapat perbedaan pendapat tentang kembalinya dhomirHu (nya) dalam firman Allah “Tuazziruuhu wa Tuwaqiruuhu”. Ibnu Juzayy al Kalbi dalam tafsirnya (3/52) mengatakan: [Dhomir hu dalam Tuazziruuhu wa Tuwaqiruuhu kembali kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sedang hu dalam Tusabbihuuhu  kembali kepada Allah. Dikatakan pula bahwa ketiganya kembali kepada Allah.Kata Tuazziruuhu juga ada yang membacanya Tuazzizuuhu, dengan dua Za’].

    Syekh Abu Asyur dalam tafsirnya (At Tahriir wa at Tanwiir12/156) mengatakan: [Ibnu Abbas ra, dalam sebagian riwayat darinya berkata bahwa dhomir hu dalam Tuazziruuhu wa Tuwaqiruuhu  kembali kepada rasulNya. Dan juga dimungkinkan kalimat (kalam) berhenti pada firman Allah Nadziiroo yang berarti Lam dalam firmanNya Li tu’minuu adalah Lam Amar, tidak lit ta'liil (agar) yang berarti sebagai permulaan jumlah (kalam/kalimat). Dengan demikian maknanya adalah, “Berimanlah kalian dengan Allah dan RasulNya!”]

    Perintah mengagungkan dan memuliakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mencakup pada masa hidup dan setelah Beliau wafat.

     Adapun bagaimana memuliakan Beliau saat masih hidup maka bisa disaksikan lewat banyaknya hadits shahih tentang sikap-sikap para sahabat mulia selaku manusia yang paling mengerti bagaimana cara memuliakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

    Sementara memuliakan Beliau pasca kewafatannya maka sangat terkait dengan kehidupan barzakh Beliau yang tidak seperti kehidupan kita ini, tetapi kehidupan istimewa yang sesuai dengan Beliau dan dengan dimensi alam di mana Beliau berada sebagai satu keitimewaan yang hanya dimiliki oleh para nabi alaihimussalaam, dan tidak dimiliki oleh manusia selain mereka seperti halnya mereka shalat di dalam kubur, jasad mereka tetap utuh, amal-amal umat ditampakkan kepada mereka dan lain-lain di mana hadits tentang topik ini banyak sekali. Andai manusia selain mereka memiliki sebagian keistimewaan seperti yang ada pada mereka (semacam Karomah) maka tidak lebih hanya sesuatu yang bernama al Ilhaaq an Nisbii (disamakan karena masih memiliki hubungan).

    Abuya al Walid al Habib Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani dalam Mafahim Yajib an Tushahhah hal 266 menyebutkan:

    [Adapun di Barzakh maka jika seorang termasuk ahli iman maka sesungguhnya ia telah melewati masa ujian di mana tidak ada yang teguh di sana kecuali orang yang beruntung (ahlussa’adah). Kemudian sesudah itu ia terbebas dari Taklif  dan menjadi ruh yang bersinar, suci, banyak berfikir, bebas berkelana dan mondar mandir dalam Malakut dan kerajaan Allah subhaanahu wata’aalaa. Tidak ada sedih tidak ada susah. Tiada lelah dan gelisah, karena tidak ada dunia, tiada pekarangan, tiada emas dan tiada perak sehingga tidak ada iri hati, kezaliman dan kedengkian.]

    Kehidupan yang hakiki ini sama sekali tidak bertentangan dengan pernyataan tentang kematian mereka seperti dijelaskan dalam firman Allah, “dan Kami tidak menjadikan langgeng (siapapun) manusia sebelum kamu “QS al Anbiya’:34. “Sesungguhnya kamu mati dan sesunggunya mereka juga mati”QSAz Zumar:30,sebagai sesuatu yang bisa diindera dan bukan hal gaib yang tidak bisa digambarkan oleh akal manusia. Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hidupku lebih baik bagi kalian; jika kalian berbuat hal baru maka ada bimbingan untuk kalian. Wafatku lebih baik bagi kalian; ditampakkan kepadaku amal-amal kalian. Apa yang kulihat baik maka aku memuji Allah karenanya dan apa yang kulihat jelek maka aku memohon ampunan kepada Allah untuk kalian”(HR al Bazzar. Abu Zar’ah al Iraqi berkata: S anadnya Jayyid. Al Haitsami berkata: Para perawinya (Rijaal) adalah perawi shahih.. Imam Suyuthi,  al Qasthalani dan al Munawi mengatakan bahwa hadits ini shahih. Al Hafizh Ismail al Qadhi juga meriwayatkannya dalam Fadhlusshalatu alannabiyy shallallahu alaihi wasallam. Syekh al Albani berkata: Hadits ini Mursal yang Shahih.(Lihat Mafahim hal 275-276)

    Berangkat dari pemahaman ini muncul sekian banyak hal yang dilakukan oleh kebanyakan umat demi mengagungkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan kiranya hal itu baik, seperti memperingati Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan bukan Bid’ah. Ibnu Mas’ud ra berkata: “Apa yang dianggap baik oleh kaum muslimin maka itu baik di sisi Allah”(HR Ahmad Thabarani Bazzar dengan Sanad Hasan).{Mafhumul Bid’ah bainass’ah wad dhiiq. Muhamad Samir hal 26}. Sementara di sana ada sekelompok orang yang menuduh apa yang dilakukan oleh mayoritas umat tersebut sebagai perbuatan yang salah, dan akidah mereka telah tersesat. Kelompok ini berusaha membatasi dan mencegah umat dari berbuat baik. Mereka tidak melihat kebenaran kecuali sisi pandang mereka yang sempit dan fanatisme terhadap pendapat sebagai akibat kedangkalan wawasan dan ilmu agama mereka. Atau sebagai akibat mereka belajar tanpa guru yang pembimbing. Inilah masalah yang mengantarkan sebagian anak muda salah dalam menggali sebagian hukum, memusuhi setiap orang yang berbeda dan membodohkan pendapat setiap orang yang berlawanan  hingga akhirnya  mereka menuduhnya sesat dan menghukuminya telah keluar dari agama

    .laa haula walaa quwwata illaa billaah al aliyyi al azhiim.

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM

    follow me

    VISITOR

    free counters