Ayah Pujaan Ibu Kebanggaan

    Author: Ittihad Tihad Genre: »
    Rating



    Keberadaan seorang anak tidak lain adalah penjelmaan kedua orang tua, karenanya secara fisik ataupun non fisik pasti ada kemiripan di antara kedua pihak. Fenomena seperti ini pernah ditanyakan oleh Abdullah bin Salam: "Wahai Raslullah, kapan seorang anak itu mirip dengan ayahnya dan kapan mirip dengan ibunya?" Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Jika air (sperma) lelaki mendahului air wanita maka anak akan mirip dengan lelaki itu, dan bila sperma wanita lebih dahulu dari sperma lelaki maka anak akan mirip dengan wanita itu”. Karena dirinya adalah bagian kedua orang tua, maka secara alamiah setiap anak otomatis menyayangi dan membanggakan serta memuja kedua orang tuanya. Dalam realitas sosial misalnya, seorang anak akan semakin berbesar jiwa dan memuja ayahnya jika dia menemukan bahwa ayahnya adalah seorang yang memilki kelebihan di antara ayah teman–temannya, baik dalam bidang keilmuan, kekayaan, keturunan atau kedudukan.

    Tidak hanya ayahanda yang menjadi pujaan, ibunda juga demikian. Tidak jarang seorang anak merasa percaya diri dan bangga dengan latar belakang dan status ibundanya. Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri pernah bersabda:
    أَنَا إِبْنُ الْعَوَاتِكِ مِنْ قُرَيْشٍ
    “Aku adalah anak para wanita yang melahirkan dari Quresy” HR Ibnu Hubeb dalam al Mihbar.

    Ini adalah ungkapan kebanggaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau dilahirkan dari para ibu yang mulia. Fenomena bangga dengan ibunda yang mulia serta merasa rendah diri dengan ibunda hina ini menjadikan bangsa Arab begitu teliti memilih ibu bagi anak–anaknya. Orang bijak mereka yang bernama Aktsam bin Shoefi berkata: “Jangan kalian terlena oleh kecantikan wanita hingga melupakan nasabnya, sebab pernikahan mulia adalah tangga meraih kemuliaan”. Sebagian dari mereka berkata kepada anak–anaknya: “Aku sudah berbuat baik kepada kalian sejak kalian belum dilahirkan!” Anak–anaknya bertanya: "Bagaimana engkau bisa berbuat baik kepada kami sejak kami belum dilahirkan?" Dia menjawab: “Aku memilihkan untuk kalian seorang ibu yang tidak akan menjadikan kalian dicela karenanya”. Sungguh tepat dan begitu indah gubahan syair Riyasyi yang ia tujukan kepada anaknya:
    وَأَوَّلُ إِحْسَانِيْ إِلَيْكُمْ تَخَيُّرِيْ لِمَاجِدَةِ اْلأَعْرَاقِ بَادٍ عَفَافُهَا

    Kebaikan pertama yang aku lakukan untuk kalian adalah memilih wanita (yang akan menjadi ibu) yang baik keturunan serta jelas penjagaan dirinya (Afaf).

    Perhatian dalam mencari ibu yang mulia untuk anak–anak, menjadikan orang Arab masa lampau tidak akan mengawini wanita yang menjadi tawanan (sahaya) sebelum terlebih dahulu dimerdekakan atau dipulangkan dahulu ke kampung halaman. Kisah Salma al Ghiffariyyah yang dipersunting oleh seorang penyair dan penunggang kuda hebat bernama Urwah bin al Ward al Absi menegaskan budaya ini. Ketika dalam suatu peperangan, Salma termasuk tawanan yang akhirnya menjadi bagian Urwah. Oleh Urwah Salma dimerdekakan dan kemudian dinikahi hingga dari pasangan ini terlahir beberapa anak dalam usia pernikahan lebih dari sepuluh tahun. Dalam suatu kesempatan Salma yang sejak menjadi tawanan belum pernah kembali ke kampung halaman bilang kepada suaminya: “Apakah engkau tidak khawatir anak–anakmu akan dicela sebagai anak dari wanita tawanan?” Urwah balik bertanya: "Lantas apa pendapatmu?" Salma menjawab: “Saya berpendapat sebaiknya engkau mengembalikan saya ke kampung halaman hingga nanti keluarga saya yang akan menyerahkan saya kepada anda”. Kekhawatiran akan celaan yang dikahwatirkan kelak bakal menimpa anak–anaknya membuat Urwah menyetujui permintaan isterinya ini. Sayang Urwah harus kecewa karena keluarga Salma yang masih berat melepas Salma untuk ikut dengannya membuat tipu daya dengan memberikan arak yang memabukkan hingga di saat mabuk Urwah memberi tawaran kepada isterinya antara tinggal bersamanya atau tinggal bersama dengan keluarga. Entah kehendak sendiri atau tekanan keluarga, yang jelas Salma memilih untuk tinggal di kampung halaman.

    Perhatian kepada kemuliaan ibunda ini juga telah disinggung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
    مَنْ أَرَادَ أَنْ يَلْقَي اللهَ طَاهِرًا مُطَهَّرًا فَلْيَتَزَوَّجِ الْحَرَائِرَ
    “Barang siapa yang ingin bertemu dengan Allah dalam keadaan suci dan disucikan maka hendaknya menikahi wanita–wanita merdeka”HR Ibnu Majah.

    Maksudnya hendaklah menikahi wanita beriman yang suci lagi merdeka sehingga tidak melemparkan anaknya ke dalam lubang perbudakan. Berangkat dari sini tidak boleh menikahi wanita sahaya kecuali bila terpaksa. Begitu pula wanita–wanita pendosa (Fajiroh), tidak seyogyanya seorang lelaki muslim menikahinya, sebab wanita tipe seperti itu baginya adalah bencana. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mengingatkan:

    إِيَّاكَ وَخَضْرَاءَ الدِّمَنِ
    “Waspadailah oleh kalian Khodhro’ud Diman (yaitu wanita cantik yang tumbuh di lingkungan buruk” HR Daaruquthni.

    Leave a Reply

    Shoutul Haromain FM

    follow me

    VISITOR

    free counters